LAPORAN KIMIA ANALITIK GRAVIMETRI METODE ~ Anak HIMKA UNG
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK I
GRAVIMETRI PENENTUAN KALSIUM DARI BATU KAPUR
Disusun oleh :
MUHAMMAD TAUFIQ NUR
442416004
PRODI KIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2017
A.
Judul Praktikum
Gravimetri Penentuan
Kalsium Dari Batu Kapur
B.
Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa dapat memahami prinsip kerja gravimetri
2. Mahasiswa dapat menentukan kalsium dari batu kapur
dengan metode gravimetri
C.
Dasar Teori
Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan
pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu. Bagian terbesar dari
penentuan secara analisis gravimetri meliputi transformasi unsure atau radikal
ke senyawa murni stabil yang dapat segera dirubah menjadi bentuk yang dapat
ditimbang dengan teliti. Berat unsure dihitung berdasarkan rumus senyawa dan
berat atom unsure-unsur yang menyusunnya. Pemisahan unsur-unsur atau senyawa
yang dikandung dilakukan dengan beberapa cara, seperti : metode pengendapan ,
metode penguapan dan metode elektroanalisis. Metode gravimetri memakan waktu
cukup lama. Adanya pengotor pada konstituen dapat diuji dan bila perlu
faktor-faktor koreksi dapat digunakan (Khopkar, 2008 : 27).
Beberapa kation dan anion dapat dianalisis
dengan cara ini. Tetapi tiap kation maupun anion mempunyai cara-cara khusus
yang terkandung pada sifat endapan yang diperoleh. Untuk analisis gravimetric
reaksinya harus stoikiometri. Mudah dipisahkan dari pelarutnya, rumus kimianya
diketahui dengan pasti dan cukup stabil dalam penyimpanan (Team Teaching, 2017:
19).
Gravimetri dapat digunakan
untuk menentukan hampir semua anion dan kation anorganik serta zat-zat netral
seperti air, belerang dioksida, karbon dioksida dan isodium. Selain itu,
berbagai jenis senyawa organik pula ditentukan dengan mudah secara grvimetri.
Contoh-contohnya antara lain: penentuan kadar laktosa dalam susu, salisilat
dalam sediaan obat, fenolftalein dalam obat pencahar, nikotina dalam pestisida,
kolesterol dalam biji-bijian dan benzaldehida dalam buah-buahan tertentu. Jadi,
sebenarnya cara gravimetri merupakan salah satu cara yang paling banyak
digunakan dalam pemeriksaan kimia. (Rivai, 1995: 309).
Menurut
(Ibnu, 2004: 135)
metode gravimetri untuk
analisis kuantitatif didasarkan pada stoikiometri reaksi pengendapan yang
secara umum dinyatakan dengan persamaan : aA + pP
AaPp
“a” adalah koefisien reaksi setara dari
reaktan analit (A). “p” adalah koefisien reaksi setara dari reaktan pengendap
(P) dan AaPp adalah rumus molekul dari zat kimia hasil reaksi yang tergolong
sulit larut (mengendap) yang dapat ditentukan beratnya dengan tepat setelah
proses pencucian dan pengeringan. Penambahan reaktan pengendap P umumnya
dilakukan secara lebih agar dicapai proses pengendapan yang sempurna. Misalnya,
pengendapan ion Ca2+ dengan menggunakan reaktan pengendap ion
oksalat (C2O42-) dapat dinyatakan dengan
persamaan reaksi berikut :
a. Reaksi yang menyertai
pengendapan :
Cu2+
+ C2O42-
CaC2O4 (s)
b. Reaksi yang menyertai
pengeringan :
CaC2O4
(s) CaO (s) +
CO2 (g) + CO(g)
Dalam gravimetri, endapan
biasanya dikumpulkan dengan penyaringan cairan induknya melalui kertas saring
atau alat penyaring kaca masir. Kertas saring yang digunakan dalam gravimetri
terbuat dari selulosa yang sangat murni sehingga jika dibakar hanya
meninggalkan sisa abu sangat sedikit. Selain dengan penyaringan, endapan dapat
pula dipisahkan dengan cara pengenap-tuangan. Dengan cara ini, endapan yang
berada dalam cairan induknya diendapkan beberapa saat, kemudian cairan bagian
atasnya dituangkan kedalam wadah lain. Pekerjaan ini dilakukan berulang-ulang
sampai semua cairan terpisah dari endapan (Rivai, 1995: 305).
Pengendapan dilakukan
sedemikian rupa sehingga memudahkan proses pemisahannya, misal: Ag diendapkan
sebagai AgCl, dikeringkan pada 130ºC, kemudian ditimbang sebagai AgCl atau Zn
diendapkan sebagai Zn (NH4)PO4.6H2O, selanjutnya
dibakar dan ditimbang sebagai Zn2P2O7. Aspek yang
penting dan perlu diperhatikan pada metode tersebut adalah endapannya mempunyai
kelarutan yang kecil sekali dan dapat dipisahkan secara filtrasi. Kedua, sifat
fisik endapan sedemikian rupa sehingga mudah dipisahkan dari larutannya dengan
filtrasi, dapat dicuci untuk menghilangkan pengotor, ukuran partikelnya cukup
besar, serta endapan dapat diubah menjadi zat murni dengan komposisi kimia
tertentu (Khopkar, 2008: 27).
Pengendapan
ion Ca2+ dengan menggunakan reaktan pengendap ion
oksalat C2O42- dapat dinyatakan dengan persamaan reaksi
berikut:
- Reaksi yang menyertai
pengendapan= Ca2+ + C2O42- → CaC2O4 (s)
- Reaksi yang menyertai
pengeringan= CaC2O (s) → CaO (s) +
CO2 (g) + CO(g)
Agar
pengendapan kuantitas analit dalam metode gravimetri mencapai hasil yang
mendeteksi nilai yang sebenarnya, harus dipenuhi dua kriteria berikut: 1)
proses pemisahan atau pengendapan analit dari komponen lainnya berlangsung
sempurna; 2) endapan analit yang dihasilkan diketahui dengan tepat komposisinya
dan memiliki tingkat kemurnian yang tinggi, tidak bercampur dengan zat pengotor
(Ibnu, 2004: 135).
Analisis gravimetri berlangsung baik, jika persyaratan berikut
ini dapat terpenuhi :
a. Komponen yang
ditentukan harus dapat mengendap secara sempurna (sisa analit yang tertinggal
dalam larutan harus cukup kecil, sehingga dapat diabaikan ), endapan yang
dihasilkan stabil dan sukar larut.
b. Endapan yang terbentuk
harus dapat diputihkan dengan mudah dari larutan (dengan penyaringan).
c. Endapan yang ditimbang
harus mempunyai susunan stoikiometri tertentu (dapat diubah menjadi system
senyawa tertentu ) dan harus bersifat murni atau dapat dimurnikan lebih lanjut
(Syabatini, 2011).
Menurut
(Ibnu, 2004:135) dalam analisis gravimetri endapn yang dihasilkan ditimbang dan
disbandingkan dengan berat sampel. Persentase berat analit A terhadap sampel
dinyatakan dengan persamaan :
%A = × 100%
Menurut (Syabatini,
2011) kesalahan dalam gravimetri dibagi menjadi dua
yaitu:
a. Endapan yang tidak
sempurna dari ion yang diinginkan dalam cuplikan.
b. Gagal memperoleh
endapan murni dengan komposisi tertentu untuk penimbangan.
Faktor-faktor
penyebabnya adalah :
a. Kopresipitasi dari
ion-ion pengotor
b. Postprepitasi zat yang
agak larut
c. Kurang sempurna
pencucian
d. Kurang sempurna
pemijaran
e. Pemijaran berlebih
sehingga sebagian endapan mengurai
f. Reduksi dari karbon
pada kertas saring
g. Tidak sempurna
pembakaran
h. Penyerapan air atau
karbondioksida oleh endapan
Untuk menghilangkan sisa-sisa cairan induk dan kotoran
yang terjerap, maka endapan harus dicuci setelah disaring. Pencucian akan
berhasil jika pencucian dilakukan berulang-ulang dengan pemakaian sebagian demi
sebagian cairan pencuci. Pencucian dilanjutkan terus sampai ion pengotor telah
hilang sama sekali. Hilangnya ion pengotor ditandai dari hasil negatif pada
pengujian cairan pencuci dengan pereaksi yang cocok (Rivai, 1995: 305).
D.
Alat
dan Bahan
1.
Alat
|
No.
|
Nama
alat
|
Kategori
|
Gambar
|
Fungsi
|
|
1.
|
Beaker
gelas
|
I
|
![]() ![]() |
-
untuk mengukur volume larutan yang tidak
memerlukan tingkat ketelitianYang tinggi,
-
menampung zat kimia, memanaskan cairan,
-
sebagai media pemanasan cairan
|
|
2.
|
Corong
|
I
|
Untuk menyaring campuran kimia dengan gravitasi
|
|
|
3.
|
Penangas
|
II
|
![]() |
Sebagai tempat memanaskan larutan
|
|
4.
|
Gelas
ukur
|
I
|
![]() ![]() |
Untuk
mengukur volume larutan
|
|
5.
|
Pengaduk
|
I
|
![]() ![]() |
Untuk mengaduk
atau mencampurkan larutan
|
|
6.
|
Erlenyemer
|
I
|
![]() |
Untuk tempat zat yang akan dititrasi.
Kadang-kadang juga digunakan untuk memanaskan larutan
|
|
7.
|
Kaki
tiga
|
I
|
![]() |
Untuk
menahan kawat kasa dalam pemanasan
|
|
8.
|
Tabung
reaksi
|
I
|
![]() |
Untuk tempat mereaksikan
bahan kimia
|
|
9.
|
Pipet tetes
|
1
|
![]() |
Untuk meneteskan larutan dengan jumlah kecil.
|
|
10.
|
Thermometer
|
1
|
![]() |
Untuk mengukur suhu larutan
|
|
11.
|
Neraca
analitik
|
2
|
![]() |
Untuk mengukur bahan (sampel),
atau zat kimia
|
|
12.
|
Eksikator
|
1
|
![]() |
Untuk mendinginkan sampel (contoh).
|
|
13.
|
Kertas saring
|
1
|
Untuk
menyaring larutan.
|
|
|
14.
|
Mortal dan Alu
|
1
|
![]() |
Menghasluskan
batu kapur
|
|
15.
|
Kaca arloji
|
1
|
![]() |
Digunakan untuk tempat zat yang akan ditimbang.
|
2.
Bahan
|
No
|
Nama Bahan
|
Kategori
|
Sifat Fisik
|
Sifat Kimia
|
|
1.
|
Batu kapur
(CaCO3)
|
Umum
|
-
larut dalam asam, menghasilkan CaO dan CO2
ketika dipanaskan.
|
-
Padatan/serbuk putih,
keasaman (pKa) 9,0
|
|
2.
|
Amonium Oksalat
(NH4)2 C2O4
|
Khusus
|
-
rumus kimia C2H8N2O4,
merupakan garam oksalat dengan ammonia.
|
-
Warna putih, massa molar
124.1 g mol−1
|
|
3.
|
H2O
|
Umum
|
-
Pelarut polar, merupakan ion H+ yang
berasosiasi dengan OH-
|
-
Cairan bening tak berwarna,
Titik didih 100 OC, titik lebur 0 °C (273.15 K
|
|
4.
|
HCL encer
|
Khusus
|
-
HCl
akan berasap tebal di udara lembab.
-
Gasnya
berwarna kuning kehijauan dan berbau merangsang. Dapat
larut dalam alkali hidroksida, kloroform, dan eter.
-
Merupakan
oksidator kuat.
-
Berafinitas
besar sekali terhadap unsur-unsur lainnya.
|
-
Massa
atom : 36,45
-
Massa
jenis: 3,21gr/cm3
-
Titik
leleh : -1010C
- Energi ionisasi : 1250 kj/mol
- Kalor jenis :0,115 kal/gr 0C
- Pada suhu kamar, HCl berbentuk gas yang tak
berwarna
-
Berbau
tajam
|
|
4
5.
|
Perak Nitrat
(AgNO3)
|
Khusus
|
-
Padatan Kristal
-
tidak berwarna
-
titik leleh 59
-
titik didih 97
-
densitas 1,82
|
-
Larut dalam air
-
merupakan garam
|
|
6.
|
Asam Nitrat
(HNO3)
|
khusus
|
-
Massa jenis : 1,502 gr/cm3
-
Titik didih : 86ºC
-
Titik lebur : -42ºC
-
Energi evaporasi : 9,43 kkal/mol
pada 200 C
-
Berat molekul : 63,02 gram/mol
-
Nilai entropi : 37,19 kkal/mol oK
pada 25Oc
-
Tidak berwarna
|
-
Merupakan oksidator yang kuat dan
asam kuat
-
Reaksi dengan amonia menghasilkan
amonium nitrat, menurut reaksi:
HNO3 + NH3 → NH4NO3
-
Reaksi dengan nikel sulfida
menghasilkan garam nikel nitrat, nitrogen monoksida, belerang, dan air.
3 NiS + 8 HNO3 → 3 Ni(NO3)2 + 2 NO + 3 S + 4 H2O
-
Reaksi dengan NiS yangditambah
asam klorida, menghasilkan garam nikel klorida.
3 NiS + 2 HNO3 + 6 HCl → 3 NiCl2 + 2 NO + 3 S + 4 H2O
-
Reaksi dengan logam perak akan
membentuk perak nitrat dan nitrogen dioksida.
|
E.
Prosedur
Kerja
![]() |
Memanaskan
kembali diatas penangas air ± 1 jam,
![]() |
|
F.
Hasil Pengamatan dan Perhitungan
1.
Hasil Pengamatan
|
No
|
Perlakuan
|
Hasil
pengamatan
|
|
1
|
Menimbang dengan
teliti contoh batu kapur yang telah dihaluskan
|
0,2000 gram
|
|
2
|
Melarutkan dengan
teliti HCl encer hingga contoh larutan sempurna
|
Larutan berwarna keruh
|
|
3
|
Memanaskan diatas
penangas air hingga suhu 70-80
|
Larutan berwana bening dan belum terdapat endapan
|
|
4
|
Mengendapkan dengan
asam oksalat
|
Larutan berwana
keruh dan terdapat endapan.
|
|
5
|
Memanaskan kembali
diatas penangas air selama 1 jam kemudian disaring dengan kertas saring yang
telah diketahui bobot kosongnya
|
|
|
6
|
Mencuci endapan
hingga bebas klor dan sulfat (test kualitatif)
|
Filtrat berwarna
bening bening dan residu berwarna kuning
|
|
7
|
Memanaskan di dalam oven pada suhu 100
|
Endapan kapur menjadi
kering
|
|
8
|
Mendinginkan dalam eksikator selama 15
menit, kemudian ditimbang pada neraca analitik
|
Berat endapan
|
2.
Perhitungan
Berat
contoh
= 0,20174
Berat
kertas saring kosong
= 2,4298
Berat
endapan = 0,0144
%
Endapan
Faktor
gravimetric =
=
= 0,4375
= 
= 3,12 %.
Jadi,
persentase Ca dalam CaCO3 adalah 3,12 %.
G.
Pembahasan
Dalam melakukan
percobaan ini digunakan analisis gravimetri kandungan suatu unsur atau ion
dalam suatu cuplikan dapat dianalisa dengan cara gravimetri, dengan merubah
suatu unsur atau ion tersebut kedalam suatu bentuk senyawa yang mudah larut
dengan penambahan reaksi pengendap. Hal ini dilakukan pada percobaan ini yaitu
akan ditetapkan atau menentukan kadar kalsium di dalam batu kapur (CaCO3).
Kalsium biasa ditetapkan dalam gravimetri melalui pengendapan kalsium oksalat
dan pembakaran oksalat tersebut menjadi kalsium oksida, dengan reaksi :
Berikut ini akan
ditetapkan kadar kalsium dalam batu kapur. Untuk mendapatkan kadar kalsium
dalam batu kapur dapat dilakukan cara sebagai berikut. Pertama menimbang dengan
teliti batu kapur yang telah dihaluskan sebanyak 2,00 gr, kemudian melarutkan
dengan HCL encer sehingga larutan menjadi berwarna putih (larutan homogen),
tujuan melarutkan CaCO3 + HCl yaitu agar untuk melarutkan kadar
logam yang terkandung dalam CaCO3. Setelah CaCO3 melarut
dam HCl (larutan homogen), memasukkan larutan kedalam tabung reaksi dan
memasukkannya kedalam gelas kimia besar yang berisi air kemudian memanaskan
larutan diatas penangas air hingga suhu 70 – 80 0C. tujuan
dilakukannya pemanasan yaitu, untuk melarutkan batu kapur secara sempurna atau
mempercepat klarutannya.
Reaksi yang
terjadi, yaitu :

Gambar 1. Proses Penambahan HCl
Semakin banyak HCl yang diberikan
larutan menjadi semakin bening hal ini dikarenakan . Setelah dipanaskan ditambahkan asam oksalat (NH4)2CO3
terbentuk endapan, dan endapan yang dibentuk adalah endapan putih. Penambahan
ini bertujuan
untuk mengikat pengotor-pengotor pada endapan, semakin banyak ditambahkan (NH4)2CO3
maka semakin banyak endapan yang terjadi. Dan reaksi yang terjadi yaitu
CaCO3 + HCl + NH4C2O4
→ CaC2O4 + HCO3 + NH4Cl.

Gambar 2. HCl + CaCO3
Langkah selanjutnya dipanaskan lagi selama ± 1 jam untuk
mengurangi pengotor-pengotor pada endapan, karena ikut menguap. Kemudian
endapan tersebut disaring dengan kertas saring yang diketahui bobotnya. Hasil
penyaringan pertama dan kedua ditambahkan larutan AgNO3 terjadi
endapan putih dan endapan itu sangat nampak. Dalam proses
pemanasan terbentuk gelembung – gelembung gas karena terbentuknya karbon
dioksida yang dilepaskan. Persamaan reaksinya :
CaCO3
+ 2H+ → Ca2++ H2O + CO2↑

Gambar 3. Proses pemanasan pertama
Penambahan ammonium
oksalat dilakukan agar terbentuknya endapan. pada saat di tambahkan ammonium
oksalat kelarutannya berkurang sehingga terbentuklah partikel – partikel kecil
yang akan mengendap, sehingga larutan menjadi keruh. Kekeruhan ini dikarenakan
terbentuknya kalsium karbonat. Persamaan reaksinya
Ca2+
+ CO32-
CaCO3

Gambar
4. Setelah penambahan ammonium oksalat
Selanjutnya larutan
dipanaskan kembali diatas penangas selama satu jam, pada saat pemanasan
kekeruhan mulai memudar diakibatkan karena terbentuknya hidrogen karbonat
yang larut. Persamaan reaksinya :
CaCo3↓ + Co2 + H2O→Ca2++2HCO3
Untuk memperoleh berapa gram yang terkandung dalam batu kapur dilakukan perhitungan, berdasarkan perhitungan maka diperoleh berat endapan pada batu
kapur yaitu 0.020 g.

Gambar
5. Tingkat kekeruhan mulai memudar
Setelah proses
pemanasan kedua dapat dilihat penyusutan larutan dari 50 mL menjadi 20 mL hal
ini menandakan karena telah terjadinya penguapan larutan dan zat – zat yang
tidak diinginkan, walaupun sebagian besar zat pengotor ada yang ikut mengendap.

Gambar
6. Proses penyaringan
Kemudian mencuci
endapan menggunakan aquadest tujuannya untuk membersihkan atau melarutkan zat –
zat yang tidak diinginkan guna menghasilkan endapan murni.

Gambar 7.
Pencucian endapan
Pada
pencucian pertama ketika filtrat diuji dengan menambahkan BaCl2, terjadi
sedikit perubahan yakni filtrat menjadi sedikit keruh hal ini menandakan bahwa
endapan mengandung sulfat. Ketika
ditambahkan AgNO3 dan setetes HNO3 terbentuk endapan
putih. pencucian kedua selesai dilakukan ketika menguji sulfat dengan
menambahkan BaCl2 tidak terjadi perubahan, larutan tetap bening
tentu ini menunjukan bahwa endapan telah bebas dari sulfat terlihat dari tidak
adanya endapan putih. Ketika ditambahkan AgNO3 dan HNO3
masih terbentuk endapan putih yang menunjukan endapan masih positif mengandung
klor, setelah dilakukan pencucian sebanyak 14 kali endapan baru bisa bersih
dari klor ditunjukkan dengan tidak adanya endapan putih lagi.

Gambar 8.
Larutan bebas klor
Langkah
Selanjutnya yakni dilakukan pengeringan endapan bersama kertas saring
didalam oven pada suhu 1000 – 1100 C. hal ini dilakukan
untuk menghilangkan zat – zat yang tidak diinginkan sehingga dapat menguap
serta menghilangkan kadar airnya. Pengeringan pada suhu tinggi diperlukan untuk
menghilangakn air lengkap yang dioklusi atau diserap sangat kuat. Selanjutnya
mendinginkan endapan bersama kertas saring didalam eksikator selama
menit, pendinginan dilakukan menggunakan
eksikator agar Ca tidak menyerap uap air yang terdapat di udara bebas, serta
karena pada bagian bawah eksikator terdapat kristal silika yang dapat menyerap
panas sehingga proses pendinginan dapat berlangsung dengan cepat.
Mendinginkan
endapan bersama kertas saring didalam eksikator selama
menit, pendinginan dilakukan menggunakan
eksikator agar Ca tidak menyerap uap air yang terdapat di udara bebas, serta
karena pada bagian bawah eksikator terdapat kristal silika yang dapat menyerap
panas sehingga proses pendinginan dapat berlangsung dengan cepat.

Gambar
9. Pendinginan dalam eksikator
Setelah proses
pendinginan, dilakukan penimbangan hingga diperoleh berat yang konstan. Perlakukan
berulang kali dilakukan agar memperoleh berat Ca yang murni dan konstan dari
hasil pendinginan dan penimbangan yang dilakukan berulang kali.

Gambar 15. Endapan dan
kertas saring
Tujuan dilakukan
pengeringan dan pemijaran (pemanasan) adalah pengeringan endapan untuk
menghilangkan air dan zat yang mudah menguap, pemijaran untuk merubah endapan
itu kedalam suatu senyawa kimia yang rumusnya diketahui dengan pasti.
Proses pemijaran
dilakukan karena analisis gravimetri reaksinya harus stokiometri mudah
dipisahkan dari pelarutnya rumus kimia diketahui dengan pasti dan cukup stabil
dalam penyimpanan.
H.
Kesimpulan
Berdasarkan yang
telah dilakukan dalam laboratorium dapat diketahui bahwa di dalam batu kapur terdapat kalsium yang ditentukan
dengan cara analisis gravimetri metode pengendapan dimana didapatkan
bahwa Ca yang terkandung dalam batu kapur (CaCO3) sebesar 3,12 %.
Daftar
Pustaka
Ibnu,
Shodiq, dkk. 2004. Kimia
Analitik I. Malang: JICA.
Khopkar,
S.M. 2008. Konsep Dasar Kimia
Analitik. Jakarta: Univeritas
Indonesia.
Rivai,
Harrizul. 1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: Universitas
Indonesia.
(Diakses pada tanggal 22 Oktober
2017).
Team Teaching Mata Kuliah
Prak Analisis Kimia. 2017. Penuntun Praktikum
Analisis
Kimia I.
Gorontalo: UNG.





















Komentar
Posting Komentar